Jumat, 05 Agustus 2016

Sudut pandang Burung MOCKINGJAY




https://nasikhudinisme.files.wordpress.com/2014/11/5741813_16144029_lz.jpg
MOCKINGJAY

Entah kenapa setelah menonton film The Hunger Games jadi kepikiran banyak hal dan ingin segera menuliskan sebelum lupa lalu hilang begitu saja. Hmm iya btw ini saya baru menulis dari sekian lama tak mengutaran apa yg sedang terfikirkan.Ya walaupun sedikit demi sedikit saya sisipkan di postingan instagram. Tentu saja selain untuk mengingat, adalah untuk pencitraan diri. Yah beginilah kadang saya harus banyak mencitra diri setidaknya untuk menutupi saya yg tak keren. Haha sok puitis yaa. Maafin-maafin kebanyakan baca quote dr ayah pidi baiq nih hehehe.

Baiklah kembali ke apa yang ingin saya tulis. Satu pertanyaan yang membuat saya berfikir dan menjelajah kemana mana. "Kenapa sang pembuat ide novel MOCKINGJAY menuliskan novel seperti itu?" Tentunya dengan menulis ide seperti itu biasanya telah ada sesuatu yang diliatnya sehingga ia ingin menyalurkan ide tersebut ke novel. Maybe. Sangat keren. Sangat inspiratif. Cerdas. Sarkas. Kejam. Romantic. Dan rela berjuang untuk merasakan kebebasan walaupun harus berani mati dan berontak. Salut! *ini menurut penggambaran saya dari film ya bukan novel.

Membuka kan lagi difikiran saya bahwa untuk bebas adalah dengan berani melawan. Bung karno, hatta, shahrir, mereka semua berani melawan untuk memerdekakan haknya. Hak orang lain. Hak rakyatnya. Bebas tanpa tindasan orang lain. Tanpa melihat penderitaan orang lain. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Lalu kebahagiaan yang bagaimana? Haha sungguh negeri yg sangat-sangat di impikan. Dan slalu, kesederhanaan adalah nilai plus bagi mereka yg ingin hidup bahagia disana.

Hahaha kembali kembali ke MOCKINGJAY. Masih terngiyang di film The Hunger Games bagian 2, Catching Fire. Ungkapan yg teringat, "Minumlah air ini saat perutmu penuh. Itu membuatmu muntah. Supaya kau bisa terus makan. Setelah itu? Makanlah hingga kenyang dan ulangi sesuka yg kamu inginkan. Bagaimana lagi caramu agar terus bisa makan?" Bahkan yg diluar kota itu, tidak makan kalau saja tidak ada roti yang rusak dari sang penjual roti yang baik hati. Disini penggabarannya sangat jelas. Bahwa pemerintahan totaliter sangat menakutkan.

Masih dari cendekiawan idealis SOE HOK GIE, kali ini saya keinget atas bacaan buku CATATAN SEORANG DEMONSTRAN. Disana diterangkan ketika ia sedang keluar negeri untuk pertukaran mahasiswa ke Teluk Hawai Honolulu. Disana ia banyak sekali mendapat pelajaran. Salah satunya yg ia tuliskan adalah bahwa ia merasa tersinggung melihat begitu banyak jagung yang ditelantarkan dan dibiarkan busuk di pohonnya. Alasannya karna harga jagung tersebut lebih mahal dari pada upah petani. Yaahh nice! Padahal dipinggiran Amerika Latin, Biafra, banyak orang kelaparan. Disini muncul juga pertanyaan, kenapa dana perang vietnam tidak di kurangi sedikit saja untuk biaya ongkos kirim jagung (dan gandum) ke daerah-daerah kelaparan. Yaa begitu. Kadang kesenangan setiap orang berbeda-beda.

Tetapi sampai disini saya menemukan beberapa kemiripan cerita, salah satunya yaitu mereka penulis dan pemilik ide sama-sama menemukan sesuatu yang fana. Ketotaliteran penguasa. Kesenangan atas pribadi dan bodo amat terhadap orang lain. Sedangkan keduanya berbeda latar belakang. Mockingjay berbasis novel, sedang Catatan Seorang Demonstran di latarbelakangi atas buku harian, dan tentunya itu ditulis setelah apa yang ia liat dan rasakan.

Thank you banget, MOCKINGJAY, CATATAN SEORANG DEMONSTRAN, film GIE. Menginspirasi banget bahwa pemilik politik itu adalah pemenang. Harga harga ikan dipasar, beras yg kita makan, jagung, harga sendal jepit, minyak, biaya sekolah, kuliah, and anything else. Semua dikendalikan oleh politik. Dan begitulah. Makannya kamu belajarlah politik yg setinggi-tingginya dan bawalah kedamaian untuk itu. Seperti halnya di agama saya, bahwa yang terpenting adalah kedamaian, kebahagiaan hakiki, dunia akhirat. Insyaallah.

Barusan yang saya tulis itu adalah menurut sudut pandangku saja lho ya. Jangan langsung dipercaya dan buktikanlah sendiri. Soalnya saya sendiri masih takut menuliskan yang begitu. Takutnya apa yang berusaha saya tuturkan lewat media, kurang dimengerti dan bahkan saya yang kurang ahli dalam penyampaian atau mungkin ilmu yang saya serap belum seutuhnya untuk bisa dibagi. Hehehe

Tidak ada komentar: